Monday, February 5, 2018

Anies Mangkir 3 Kali Di Sidang Kasus Pidato Pribumi Pas #100Hari

Anies Mangkir 3 Kali Di Sidang Kasus Pidato Pribumi Pas #100Hari


Prediksi penulis terbukti, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mangkir tiga kali di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat dalam sidang mediasi ketiga gugatan Tim Advokasi Anti Diskriminasi Ras dan Etnis (Taktis) yang dijadwalkan hari Rabu(24/1) pukul 9 WIB di PN Jakarta Pusat sesuai kesepakatan. Info Terkini

Anies Mangkir 3 Kali Di Sidang Kasus Pidato Pribumi Pas #100Hari

Anies Baswedan dilaporkan Gerakan Pancasila karena telah mendiskriminasikan ras dan etnis tertentu. Pelaporan tersebut berdasarkan pasal 4 huruf B ke-1 dan ke-2, serta pasal 16 undang-undang nomor 40 tahun 2008, tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis. Nah, ternyata Anies takut alias ngeper juga, kalah ama Sandi dong, haha.

Anies mencetak hattrick di #hari pemerintahannya, luar biasa. Sidang pertama 14 Desember lalu absen, sidang kedua 17 Januari mangkir dan hanya diwakili kuasa hukumnya. Kuasa hukum dari Biro Hukum Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Nadya Zunairoh. menyatakan mewakili Anies bahwa Gubernur Anies akan hadir di sidang ketiga. Ternyata janji manis tapi palsu.

Sewaktu di sidang mediasi kedua, alasan sibuk dikemukakan oleh kuasa hukumnya dari Biro Hukum DKI. Anies seharusnya tidak boleh mewakilkan kepada tim pengacara dari Biro Hukum Pemprov tapi demi menghemat kantongnya sendiri. Berita Terkini

Tahu alasan yang dikemukakan pengacara dari Tim Biro Hukum DKI? Alasannya sang Gubernur tak perlu hadir karena keberadaan Anies Baswedan sudah diwakilkan oleh mereka, demikian dilansir CNNIndonesia.

Gubrak, bisa gitu ya? Arogan banget. Janjinya mau datang di sidang ketiga eh ujung-ujung alasannya sudah diwakilkan, wkwkwk. Ini yang lebih koplak, menurut keterangan dari Biro Hukum sendiri bahwa bukan merupakan keharusan Gubernur Anies hadir dalam sidang mediasi ini.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin mengatakan, dalam perkara perdata, Anies memang boleh tak hadir dan hanya diwakili oleh kuasa hukum. Namun sebagai pemimpin, menurut dia, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu harusnya tak boleh mengesampingkan masalah yang dianggap kecil, seperti dilansir laman Hukum.rmol.

"Walau perkaranya perdata. Harus juga diutamakan hadir. Karena jangan pernah sekali-kali kita meremehkan hal-hal kecil," kata Ujang. Kehadiran Anies dalam sidang mediasi tersebut dinilainya juga sangat penting untuk memberi contoh yang baik kepada rakyatnya. "Pemimpin harus jadi suri tauladan. Harus bisa dicontoh bagi rakyatnya. Harusnya hadir," tegas Ujang. Hadeh.

Menurut Tim Taktis yang menggugat Anies mengatakan jika panggilan ketiga Anies tidak datang maka mereka akan meminta Majelis Hakim untuk menjatuhkan keputusan verstek atau keputusan yang harus dan bisa diberlakukan kepada Anies Baswedan itu tanpa orang yang menunggu yang bersangkutan hadir. Kumpulan Berita

Penulis dan pendukungnya mengatakan Anies adalah pemberani. Tapi nyatanya cuma berani di bibir dan mulut saja. Giliran ditagih, ngeles seribu alesan. Kalau sudah berjanji kan harus ditepati. Malah hari Sabtu minggu lalu menyinggung, kalau berjanji masak orang lain yang menepati?

Nah, gak perlu sentil sana sini. Tuh, situ mengumbar janji tapi begitu giliran waktunya ditagih kagak nongol. Omdo adalah kata yang pantas untuk Pak Anies. Berani mengumbar omdo itu adalah julukan yang tepat. Omdo dalam kampanye dan omdo dalam pelaksanaan pemerintahan Anda. Memalukan kaum pria saja.

Pria itu harus menepati jika sudah pernah berjanji. Jangan cuma asal nyablak dan jeplak. Mulut udah ngalah-ngalahin emak emak karena menyebar omongan yang tak membawa kesejukan malah mencabik-cabik.

Tenun kebangsaan itu ternyata omong kosong karena Pak Anies malah main menusuk-nusuk dan mencabik-cabik dengan perkataan yang tajam. Hanya seindah gagasan dan gagasan sendiri dikoyak.

Aslinya olah kata sejati itu akan menjaga agar setiap katanya itu bermakna. Tapi Pak Gubernur itu ternyata bukan pengolah kata tapi pemain kata. Kata-kata dimainkan sesuai keinginan dan kepentingannya.

Orang yang bermain kata tidak pernah serius dan sungguh-sungguh dalam menggunakannya. Kata kata yang diusung sebenarnya tak bermakna. Tak ada arti. Jadi kalau mau diharapkan setiap kata itu punya arti dan ditepati maka haailnya percuma. Wong pengusungnya tak pernah mikir secara serius apa yang diucapkannya. Berita Terbaru

Kata yang terucap itu tidak lagi berasal dari pikiran dan hati. Tapi tinggal pengolahan lewat bibir dan lidah yang tak lagi diolah dalam hati dan pikiran. Asal nyembur lebih tepat kalau dikatakan.

Lagi-lagi demi menjaga citra dirinya Anies berkelit secara terbuka dari sidang mediasi ini. Masa #100Hari pemerintahannya sudah ternoda akibat mulutnya sendiri dan dirinya tak mau bertanggung jawab. Malah melempar ke kuasa hukumnya. Jadi tinggal menunggu kabar selanjutnya dari Majelis Hakim untuk menentukan nasib Anies selanjutnya.

0 comments:

Post a Comment