Thursday, September 14, 2017

Jika Ibu Negara di Hina, Ini Yang Akan di Lakukan Presiden Soeharto Dulu

Jika Ibu Negara di Hina, Ini Yang Akan di Lakukan Presiden Soeharto Dulu

Belakangan ini fenomena menghina kepala negara di media sosial terjadi di media sosial. Polisi telah menangkap beberapa orang yang diduga terlibat jaringan penyebar kebencian di media sosial. di antara nya Dodik Ihwanto pemilik akun Instagram @warga_biasa yang ditangkap polisi gara-gara menghina Ibu Negara Iriana Jokowi di intagram.

Pada zaman Orde Baru dulu, tidak ada masyarakat yang pernah dan berani menghina kepala negara atau keluarga Cendana. Berbicara pun terkadang bisik-bisik karena takut terdengar oleh aparat.

Menjelang tahun 1980, kritik pada pemerintahan Orde Baru makin kencang. Terutama yang diserang adalah isu soal hak berbicara dan korupsi di lingkaran penguasa. Apa sikap Presiden Soeharto menghadapi kritik dan isu seperti ini? Info Terkini

Pak Harto akhirnya memberikan jawaban. Dia pilih momen dengan pesan simbolis dan kuat: Hari Ulang Tahun Kopassandha (sekarang Kopassus) ke-28.

Hari itu, 16 April 1980, Pak Harto berpidato di Markas Kopassandha, Cijantung. Pak Harto menekankan dalam isi pidatonya seperti pada Rapim ABRI sebulan sebelumnya, yaitu setia pada Pancasila.  Kumpulan Berita

"Ancaman bagi kita harus dihadapi dengan kekuatan yang kita miliki. Akan tetapi kita mengetahui bahwa ancaman ideologi Pancasila tidak semata-mata dari kekuatan senjata," ujar Pak Harto. Dia menyebut adanya upaya untuk mengubah dan mengganti dasar negara Pancasila.

Tidak berhenti di situ, Pak Harto "Dan bahkan akhir-akhir ini sampai juga ditujukan kepada saya, yang sudah diisukan di kalangan mahasiswa dan juga di kalangan ibu-ibu yang biasa mudah untuk sampai ke mana-mana. Satu isu kalau saya ini katanya mempunyai "selir", mempunyai simpanan salah satu dari bintang film yang terkenal yang dinamakan Rahayu Effendi. Padahal kenal, berjumpa saja tidak," ujar Pak Harto dalam transkrip lengkap pidato yang dimuat di Memori Jenderal Yoga terbitan PT Bina Rena Pariwara karangan B Wiwoho dan Banjar Chaerudin.

"Apa ini semua maksudnya? Maksudnya mereka tidak lain karena mungkin hal itu menilai kalau saya itu menjadi penghalang utama dari kegiatan politik mereka itu. Karena itu harus ditiadakan," kata Pak Harto. berikutnya Pak Harto menyebutkan kalaupun berhasil meniadakan dirinya, maka masih ada ABRI dan Kopassandha yang akan membentengi upaya mengganti Pancasila dan UUD 1945 tersebut. Berita Terbaru

Akibat dari pasca pidato Pak Harto tersebut, suasana dalam politik bukannya mereda. Tapi justru makin panas. Pidato Pak Harto memicu munculnya Petisi 50 yang dimotori antara lain oleh Gubernur legendaris DKI Jakarta Ali Sadikin dan mantan Kapolri Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Ada juga beberapa jenderal pendiri Orde Baru yang kini berbalik menyerang pak Soeharto seperti HR Dharsono, M Jasin dan Kemal Idris.

Ungkapan keprihatinan Petisi 50 yang dikeluarkan pada 5 Mei 1980, poinnya adalah keprihatinan terhadap pidato Pak Harto yang mereka sebut keliru menafsirkan Pancasila sehingga dapat digunakan sebagai suatu ancaman terhadap lawan-lawan politik. Padahal, Pancasila dimaksudkan oleh para pendiri Republik Indonesia sebagai alat pemersatu Bangsa.

Para tokoh Petisi 50 ini dianggap sebagai persona nongrata. Mereka dilarang untuk bepergian ke luar negeri, mengajukan kredit dari bank, harus dimata-matai, hingga tak boleh berbicara pada pers dan tampil di depan massa.
Location: Indonesia

0 comments:

Post a Comment