Wednesday, August 23, 2017

Kisah Menguras Air Mata.. Sakit Parah, Ayah Ajak Anaknya Bermain di Kuburan

Kisah Menguras Air Mata.. Sakit Parah, Ayah Ajak Anaknya Bermain di Kuburan

Di pedalaman Provinsi Sichuan, China. Kisah sepasang suami-istri yang berasal dari keluarga petani ini telah menghabiskan banyak uang untuk biaya perawatan medis putrinya yang berusia dua tahun. orangtuanya telah menghabiskan lebih dari  Rp 188 juta, Kini uangnya telah habis tetapi si putri tak kunjung sembuh.

Segala cara dan upaya telah dilakukan untuk kesembuhan putrinya, Namun, sakit yang diderita putrinya tak kunjung baik dan bahkan bertambah parah.

Sang ayah yang telah patah hati, tidak mampu lagi membayar tagihan medis putrinya yang mulai sekarat,  lalu mengajaknya untuk bermain di kuburannya yang disiapkan untuk anaknya.

Putri Balita tersebut, diklaim menderita kelainan kondisi darah sejak ia baru berusia dua bulan.
Setelah menyadari tidak ada lagi yang bisa dia lakukan, ayahnya Zhang Liyong, yang luluh lantak, memutuskan satu-satunya pilihannya adalah mempersiapkan anaknya menghadapi kematian.

"Saya hanya bisa mengemukakan gagasan untuk mengajaknya bermain di tempat ini” – Ucap Liyong, sambil menunjuk kuburan yang telah disiapkan untuk anaknya.

"Di sinilah dia akan beristirahat dengan tenang. Yang bisa saya lakukan adalah menemaninya setiap hari," kata Liyong, seorang petani yang tinggal di dekat kota Neijiang, Sichuan itu.

Perasaan yang amat perih di rasakan oleh Liyong saat membaringkan diri di kuburan itu sambil memeluk putrinya yang masih kecil sementara ibunya, yang sedang hamil, duduk di dekatnya. Tak berdaya, Keluarga tersebut telah meminjam uang dari para sahabat, tapi tawaran bantuan keuangan kini telah habis.

Penyakit kelainan darah yang di derita Zhang diakibatkan oleh faktor genetika dan menyebabkan protein yang ada di dalam sel darah merah (hemoglobin) tidak berfungsi secara normal.

Kondisi itu dialami Zhang sejak usia dua bulan. Tentu saja, kelainan darah seperti itu membutuhkan perawatan seumur hidup, termasuk pengobatan dan transfusi darah.

Tidak ada pilihan lain.
"Dalam sebuah wawancara yang begitu emosional, ibunya, Deng Min, menangis dan berkata, "Kami telah terdesak ke sebuah sudut.
Location: Indonesia

0 comments:

Post a Comment